teori etnometodologi

A.    DEFINISI   ETNOMETODOLOGI
Istilah etnometodologi (ethnomethodology), yang berakar dari bahasa Yunani berarti metode yang digunakan orang dalam menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari.  Menurut Heritage (dalam George Ritzer, 2014: 301) studi etnometodologi adalah tentang kumpulan pengetahuan berdasarkan berdasarkan akal sehat dan rangkaian prosedur dan pertimbangan (metode) yang dengannya masyarakat dapat memahami, mencaritahu dan bertindak berdasarkan situasi dimana mereka menemukan dirinya sendiri. Dengan kata lain, etnometodologi memusatkan perhatian pada kehidupan sehari-hari (Garfinkel, dalam George Ritzer, 2014 : 302).
Etnometodologi bukan menjelaskan makrososiologi dalam arti yang dimaksud oleh Durkheim, tapi penganutnya pun tidak melihatnya sebagai mikrososiologi. Dengan demikian meskipun pakar etnometodologi menolak memperlakukan aktor sebagai “si tolol” yang memberi pertimbangan, namun mereka tak yakin bahwa “aktor memiliki kesadaran diri dan perhitungan” (Heritage, dalam George Ritzer, 2014 : 302).
Salah satu pendirian kunci Garfinkel mengenai etnometodologi adalah bahwa mereka dapat dijelaskan secara reflektif. Penjelasan adalah cara aktor melakukan sesuatu (mendeskripsikan, mengkritik dan mengidealisasikan) situasi tertentu (Bittner dan Orbuch, dalam George Ritzer, 2014 : 302). Inilah salahsatu alasan maengapa pakar etnometodologi memusatkan perhatian dalam menganalisis percakapan. Dalam mengembangkan pemikiran tentang penjelasan ini, pakar etnometodologi berusaha keras untuk mennunjukkan bahwa sosiolog, seperti orang lain, memberikan penjelasan. Jadi laporan hasil studi sosiologi dapat dilihat sebagai penjelasan dan dengan cara yang sama semua penjelasan lainnya dapat dipelajari. Pakar etnometodologi dapat mempelajari penjelasan sosiologis sebagaimana mereka mempelajari penjelasan awam. Jadi, praktik sosiologi sehari-hari dan semua ilmuwan menjadi sasaran studi yang cermat dari pakar etnometodologi.

B.     DIVERSIFIKASI   ETNOMETODOLOGI
Etnometodologi mula-mula “diciptakan” oleh Garfinkel diakhir 1940-an. Tetapi baru menjadi sistematis setelah diterbitknya karya berjudul studies in Ethnomethodology pada 1967. Hanya satu dekade setelah terbitnya srudies in Etnhnomethodology , dan Zimmerman menyimpukan bahwa ada beberapa jenis etnometodologi. Seperti dinyatakan Zimmerman, “etnometodologi mencakup sejumlah penyelidikan yang kurang lebih berbeda dan adakalanya saling bertentangan”. Sepuluh tahun kemudian Paul Atkinson menegaskan kurangnya koherensi dalam studi etnometodologi dan selanjutnya menyatakan bahwa adal beberapa etnometodologis yang menyimpang terlalu jauh dari premis-premis yang melandasi pendekatan ini. Dengan demikian, meski etnometodologi ini merupakan teori sosiologi yang sangat bersemangat, namun “mengidap penyakit” yang makin parah ditahun belakangan ini. Tak salah dikatakan bahwa etnometodologi, diversitas-nya, dan problemnya akan semakin banyak ditahun-tahun mendatang, bagaimana pun juga, masalah pokok yang menjadi sasaran etnometodologi adalah berbagai jenis kehidupan sehari-hari yang terbatas (George Ritzer, 2014: 303-304).

C.    JENIS-JENIS ETNOMETODOLOGI
1.      Studi Setting institusional
Maryard dan Clayman (dalam George Ritzer, 2014 : 305-306) melukiskan sejumlah variasi dalam etnometodologi, tetapi dari sudut pandang kita hanya ada dua jenis studi etnometodologi yang menonjol. Tipe pertama adalah studi tentang Setting Institusional. Studi etnometodologi awal yang dilakukan oleh Garfinkel dan rekannya berlangsung setting biasa dan tidak di institusionalkan seperti di rumah, kemudian bergeser ke arah studi kebiasaan sehari-hari dalam setting institusional seperti dalam sidang pengadilan, klinik (Ten Have, dalam George Ritzer, 2014 : 306) dan kantor polisi (Perakyla, dalam George Ritzer, 2014 : 306). Tujuan studi seperti itu adalah  memahami cara orang dalam setting institusional menjalani tugas kantor mereka dan proses yang terjadi dalam institusi tempat tugas itu berlangsung.
2.      Analisis percakapan
Jenis etnometodologi yang kedua adalah analisis percakapan (Rawls dan Schegloff, dalam George Ritzer, 2014 : 306). Tujuan analisis percakapan adalah memahami secara per-rinci struktur fundamentalis interaksi melalui percakapan, percakapan diartikan dengan arti yang sama dengan unsur dasar perspektif etnometodologi : percakapan adalah aktivitas interaksi yang menunjukkan aktivitas yang stabil dan teratur yang merupakan kegiatan yang dapat dianalisis (Zimmerman, dalam George Ritzer, 2014 : 307).  Zimmerman memerinci satu dari lima dasar dalam menganalisis percakapan. Pertama memerlukan pengumpulan dan analisis data yang sangat perinci tentang percakapan. Data ini tak hanya terdiri dari kata-kata saja tetapi juga meliputi keragu-raguan, gaduh, tertawa, berpantun dan sebagainya dan juga perilaku nonverbal yang terdapat dalam rekaman video yang biasanya berkaitan erat dengan rentetan aktivitas yang direkam oleh audiotype (Zimmerman, dalam George Ritzer, 2014 : 307).
            Secara metodologis, analisis percakapan berupaya mempelajari yang terjadi dalam konteks yang wajar, sering menggunakan videotype atau audiotype, teknik ini memungkinkan peneliti menganalisis percakapan secara perinci (George Ritzer, 2014 : 307).
Analisis percakapan berdasarkan asumsi bahwa percakapan adalah landasan dari bentuk-bentuk hubungan antara personal yang lain (Gibson, dalam Geroge Ritzer, 2014 : 308). Percakapan adalah bentuk interaksi paling mudah meresap dan percakapan terdiri dari matriks prosedur dan praktik komunikasi yang paling terorganisasi (Heritage dan Atkinson, dalam George Ritzer, 2014: 308).


3.      Prestasi menurut gender
Sudah jelas bahwa gender seorang laki-laki atau wanita adalah berdasarkan ciri-ciri atau sifat biologis. Orang biasanya tidak berfikir tentang kecakapan berdasarkan  jenis kelamin, sebaliknya, daya tarik kelamin jelas adalah sebuah kecakapan, orang perlu berbicara dan bertindak menurut cara tertentu agar kelihatan menggiurkan. Aggapan umum adalah bahwa orang tidak harus melakukan sesuatu atau mengatakan sesuatu agar kelihatan sebagai seorang lelaki atau wanita.
Pandangan etnometodologi mengenai jenis kelamin bisa ditelusuri kearah satu demontrasi harold garfinkel (1967) yang kini telah menjadi klasik tentang kemanfaatan orientasi  etnometodologi ini. Tahun 1950 garfinkel bertemu dengan seorang bernama agnes yang tidak diragukan lagi seorang wanita. Agnes tak hanya memiliki bentuk tubuh seorang wanita, tetapi benar-benar dengan bentuk tubuh “sempurna”,ia juga berwajah cantik, corak kulit yang bagus, tanpa bulu di wajah, dan alis mata di cabut dan ia memakai lipstik. Jelaskah ia seorang wanita atau bukan?  Garfinkel menemukan bahwa agnes tak selalu menampakkan diri sebagai seorang wanita . kenyataannya ketika garfinkel bertemu dengan agnes ia sedang berupaya meyakinkan dokter bedah yang ia butuhkan mengoperasinya untuk mengubah alat kelamin lelakinya menjadi alat kelamin wanita.dan akhirnya ia berhasil.

Agnes sejak lahir di lahirkan sebagai seorang lelaki. Kenyataannya bagaimanapun juga ia adalah seorang anak lelaki hiingga ia berusia 16 tahun.di usia itu, karena merasa serbasalah.agnes lari dari rumah dan mulai berpakaian seperti seorang wanita , dan ia juga belajar bertindak seperti seorang wanita karna ia ingin diterima sebagai seorang wanita. Garfinkel tertarik pada proses penerimaan kebiasaan yang memungkinkan agnes berfungsi sebagai seorang wanita dalam masyarakat. Pendapat yang lebih umum di sini adalah bahwa kita tak lahir semata-mata lelaki atau wanita, kita juga belajar dan membiasakan diri menggunakan kebiasaan sehari-hari yang memungkinkan kita di terima sebagai lelaki atau wanita. Menurut pegertian sosioogi, hanya dengan mempelajari dan menggunakan kebiasaan inilah kita dapat menjadi seorang lelaki atau wanita. Jadi, penggolongan seperti menurut jenis kelamin, yang selama ini dipikirkan sebagai status yang diwarisi, dapat dipahami sebagai kecakapan menyusun kebiasaan yang ditetapkan.
sumber : Ritzer, George. 2014. Teori Sosiologi Modern : edisi ketujuh. Kencana : Jakarta.

Komentar

Postingan Populer