DISKUSI “SUMPAH PEMUDA SEMANGAT RAWAT TOLERANSI”




Komunitas Temu Pemuda Lintas Iman Kalimantan Barat (Tepelima Kalbar) mengadakan kegiatan diskusi dalam forum kecil. Diskusi ini mengangkat tema yang apik, menarik, dengan latar belakang peringatan Sumpah Pemuda yang ke 90 Tahun, diskusi ini membahas tentang makna toleransi beragama sebagai suatu sikap yang perlu ditanamkan serta dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Diskusi ini dilakukan di Kafe Canopy Center, jalan Purnama II Pontianak. Diawali dengan pemutaran film documenter berjudul “The Imam and The Pastor”. Film ini berlatar konflik agama Kristen dan Islam di Nigeria, lalu ada  dua tokoh agama, Imam Ashafi dan Pastor James Wuye yang mempelopori perdamaian antar kedua kelompok agama di Nigeria. Film ini juga menitipkan pesan bahwa konflik atas nama apapun, termasuk agama, tidak membawa hasil apa-apa kecuali kehancuran. Merajut kembali perdamaian adalah misi yang di emban Imam dan Pastor ini bersama kelompok kecilnya. Film inilah yang menjadi pembuka diskusi ini, dengan moderator mbak Tri Urada yang adalah ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Thomas More, cabang Sungai Raya Pontianak.
Kawan-kawan, apa sebenarnya toleransi itu ? Secara teoritis, toleransi berarti sikap atau tingkah laku dari seseorang untuk membiarkan kebebasan kepada orang lain dan memberikan kebenaran atas perbedaan tersebut sebagai pengakuan hak-hak asasi manusia” (Nasrullah, 2015: 108).
Toleransi pada kehidupan beragama dalam konteks pluralis bangsa Indonesia, adalah suatu sikap yang mau menerima keberadaan orang atau kelompok yang berbeda agama atau keyakinan dengan dirinya.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, sangat besar. Tidak ada satupun negara di planet ini yang menyamai Indonesia dalam konteks keberagamannya.
Keberagaman itu merupakan suatu anugerah yang sangat indah dari Tuhan yang patut disyukuri namun, keberagaman itu jika tak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan konflik kekerasan yang berkepanjangan. Beruntung Indonesia memiliki payung pemersatu yang bernama Pancasila dibarengi semboyan “Bhineka Tunggal Ika”, setidaknya ada landasan untuk bersikap.
Lalu, apakah toleransi beragama sudah nyata terjadi dalam kehidupan kita ? Belum sepenuhnya, karena masih ada kelompok masyarakat yang menganggap golongannya yang paling benar dan mengesampingkan kelompok lain. Ada kelompok-kelompok yang (barangkali) ditunggangi kekuasaan politik tertentu yang memiliki agenda menyeragamkan Indonesia menjadi satu warna. Ini sangat berbahaya.
Saya sangat bangga dengan kesediaan kawan-kawan dari Tepelima Kalbar karena kesediaannya mengadakan diskusi ini. Ada perwakilan dari beberapa organisasi kepemudaan yang hadir, pemateri juga merupakan tokoh organisasi keagamaan.
Bapak Rudy Leonard, sebagai tokoh perwakilan dari Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) menyampaikan bahwa suatu negara mesti mengutamakan pendidikan sehingga masyarakat menjadi terpelajar lalu sejahtera sehingga lebih mudah menanamkan nilai-nilai toleransi beragama.
Kemudian, mas Mohammad sebagai wakil dari Jaringan Gusdurian (JGD) Kalimantan Barat menekankan bahwa toleransi beragama bukan berarti seseorang ketika bergaul dengan kelompok masyarakat muslim lalu harus menyatu menjadi Islam, ketika seseorang Hindu masuk ke lingkungan umat Buddha maka ia harus menjadi Buddha. Tidak, bukan itu. Toleransi sejatinya yaitu tetaplah menunjukkan identitas, baik suku maupun agama, namun tetap menerima perbedaan sebagai suatu kewajaran dan tidak ada sikap saling curiga.
Kak Isa Oktaviani aktivis muda dari Tepelima Kalbar, mengajak untuk memulai toleransi melalui lingkungan sekitar yang paling dekat dengan kita. Tidak perlu lebih dulu mempersoalkan yang berada jauh, cukup mulai dari lingkungan sekitar.
Akhirnya, toleransi dalam kehidupan religi masyarakat Indonesia mesti dimulai dari hal-hal kecil, melalui media sosial.
Salam toleransi,
Tepelima Kalbar…bersatu dalam keberagaman…!

Srupuuuuuutttt kooopiiinyaaaa....!

Juniardi Sucinda,
Pecinta Kopi


Komentar

  1. Bahkan alasan pelangi terlihat indah adalah karena memiliki banyak warna namun bisa bersama 😊

    BalasHapus
  2. Mantap Jun Sucinda,,,, Ikuti juga Blog kami ya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer