Corona dan Pendidikan

Tidak dapat dipungkiri, wabah Covid-19 membawa banyak kesulitan dalam kehidupan kita. Makhluk superkecil ini mampu menjangkiti 201 negara berdaulat di muka bumi (data kemenkes 2 April 2020). Luar biasa. Pemerintah berjuang untuk menanggulangi wabah yang penyebarannya begitu cepat. Pemerintah seakan berlomba dengan waktu, nyawa sebagai taruhannya. Jika semakin lama kebijakan dieksekusi, maka semakin besar peluang kehilangan nyawa.

Segala bidang dihajar oleh Coronavirus disease ini, tidak terkecuali dunia pendidikan. Di Kalimantan Barat, sejauh informasi yang diterima, semua sekolah meliburkan siswanya. Artinya tidak ada proses pembelajaran di gedung sekolah. Semuanya ikut anjuran pemerintah untuk self isolated atau mengisolasi diri dirumah masing-masing.

Sekolah-sekolah di wilayah perkotaan melaksanakan proses pembelajaran secara daring. Namun, kabar dari beberapa kerabat di wilayah pedesaan, mereka libur, memang sungguh libur. Tidak ada belajar daring. Jangankan mau pembelajaran daring, sinyal saja tidak ada, belum lagi perangkat elektroniknya yang kurang memadai bahkan tidak semua siswa punya gadget, serta banyak kendala lain. Intinya, libur.

Namun, jika kita mendefinisikan pendidikan hanya diseputar gedung sekolah saja maka itu adalah pandangan yang sempit tentang pendidikan. Tidakkah kita mampu melihat hal baik (secara sosial pendidikan) dari dampak wabah ini? Melihat hakikat pendidikan secara lebih luas ?
Aktivis dan pakar ilmu pendidikan Paulo Freire mengungkapkan bahwa Hakekat pendidikan diarahkan atas pandangannya terhadap manusia dan dunia, pendidikan harus berorientasi pada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri, serta memiliki kesadaran dan berpotensi sebagai Man of Action untuk mengubah dunianya. Pendidikan adalah instrumen untuk membebaskan manusia supaya mampu mewujudkan potensinya. Oleh karena itu, pendidikan memainkan peranan strategis untuk membawa manusia kepada kehidupan yang bermartabat dan berkualitas.

Menurut Ki Hadjar, pahlawan pendidikan kita, Pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman atau masyarakat.

Dari pendapat dua tokoh masyur dalam bidang kajian ilmu pendidikan itu, saya secara pribadi bisa menyimpulkan bahwa pendidikan tidak melulu dilaksanakan di (gedung) sekolah. Ya, pendidikan bisa dilakukan dimana saja. Belajar bisa dimana saja, kapan saja, dari siapa saja. Mestinya kendala pertemuan secara langsung karena Social Distancing ini menjadi momen seseorang untuk senantiasa belajar secara mandiri di kediaman masing-masing.

Pendidikan tidak melulu soal matematika, ilmu sosial, ilmu alam dan sebagainya. Pendidikan adalah proses belajar dan proses berpikir. Saya bukan mengatakan tidak perlu belajar mata pelajaran seperti di sekolah formal, tidak, bahkan itu sangat saya anjurkan. Namun yang ingin saya katakan bahwa momen social distancing ini adalah masa dimana seorang anak / siswa mendapat tuntunan belajar dari orang terdekatnya dirumah. Orang tua dan anak menjadi lebih akrab dari sebelumnya.

Wabah Covid-19 juga membawa pesan bahwa pendidikan formal di gedung sekolah memiliki batasan ruang dan waktu, namun pendidikan dalam arti yang luas bisa dilakukan tanpa mengenal batas ruang dan waktu sejauh ada keinginan untuk belajar, berfikir serta bertindak.

Tentu kita semua berdoa dan berharap agar wabah ini segera berakhir, dukung pemerintah, para medis serta seluruh jajaran dalam menaggulangi hal ini. Bantu mereka dengan tetap diam dirumah. Tetaplah ikuti anjuran pemerintah. Hiduplah lebih bersih dan sehat dari sebelumnya.


Pontianak, Kamis 2 April 2020
Juniardi Sucinda.


Komentar

Postingan Populer